| JudulANALISIS TINGKAT ADOPSI TELEMEDICINE DALAM LAYANAN KESEHATAN PADA MAHASISWA KEDOKTERAN: PENDEKATAN TEORI DIFUSI INOVASI |
| Nama: RENDIE IRAWAN KAWULUSAN |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak ANALISIS TINGKAT ADOPSI TELEMEDICINE DALAM LAYANAN KESEHATAN PADA MAHASISWA KEDOKTERAN: PENDEKATAN TEORI DIFUSI INOVASI Rendie Irawan Kawulusan1 , Diah Mutiarasari2 , Miranti2 , Ayu Sekarani Damana Putri3 1Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako 2Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat-Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako 3Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako e-mail: rendieirawan1@gmail.com ABSTRAK Latar Belakang: Perkembangan teknologi digital mendorong transformasi pelayanan kesehatan melalui telemedicine sebagai layanan medis jarak jauh yang berpotensi meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi. Namun, keberhasilan implementasinya bergantung pada tingkat adopsi pengguna, termasuk calon tenaga medis. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis tingkat adopsi telemedicine dan faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan Teori Difusi Inovasi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2024. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis tingkat adopsi telemedicine dikalangan Masyarakat khususnya para Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako Angkatan 2024 menggunakan pendekatan teori difusi inovasi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosssectional deskriptif-analitik. Sampel penelitian melibatkan 150 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Uji korelasi Spearman digunakan pada analisis bivariat, sedangkan regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh simultan dan parsial variabel independen terhadap adopsi telemedicine. Hasil: Tingkat adopsi telemedicine berada pada kategori sedang (61,3%). Analisis Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara keunggulan relatif, kompatibilitas, trialabilitas, dan observabilitas dengan adopsi (p < 0,001), sedangkan kompleksitas tidak signifikan. Regresi linier berganda menunjukkan model signifikan (F = 14,938; R² = 0,342), dengan kompatibilitas (? = 0,185) dan trialabilitas (? = 0,300) sebagai prediktor signifikan, di mana trialabilitas merupakan faktor dominan. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa meskipun persepsi mahasiswa terhadap telemedicine relatif positif, tingkat adopsinya belum optimal. Trialabilitas menjadi faktor kunci yang mendorong adopsi telemedicine, sehingga perluasan kesempatan uji coba dan integrasi telemedicine dalam pendidikan kedokteran memiliki peran penting dalam meningkatkan kesiapan calon tenaga medis serta mendukung transformasi digital layanan kesehatan. Kata Kunci: Telemedicine, Difusi Inovasi, Adopsi Teknologi, Mahasiswa Kedokteran. |