| Judul PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS GETAH PINUS (Pinus Merkusii Jungh. Et De Vriese) ASAL KELURAHAN TENTENA KECAMATAN PAMONA PUSELEMBA KABUPATEN POSO MENGGUNAKAN STIMULANSIA EKSTRAK JAHE (Zingiber Officinale) |
| Nama: MUHAEMIN |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Muhaemin – L13121162, Produktivitas dan Kualitas Getah Pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) Asal Kelurahan Tentena Kecamatan Pamona Puselemba Kabupaten Poso Menggunakan Stimulansia Ekstrak Jahe (Zingiber officinale) Dibimbing Oleh Erniwati dan Asniati. Salah satu tempat di Sulawesi Tengah yang terdapat Pinus merkussi Jungh. et de Vriese di Kelurahan Tentena Kecamatan Pamona Puselemba Kabupaten Poso. Pemanfaatan pinus tersebut oleh masyarakat setempat berupa penyadapan getah pinus yang kemudian dijual ke wilayah industri lajutan sehingga perlu dilakukan penelitian dan pengujian terkait kualitas dan produktivitas getah pinus yang dikelola oleh Masyarakat. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui produktivitas dan kualitas getah pinus menggunakan stimulansia organik jahe. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri 5 (lima) perlakuan dan 3 (tiga) ulangan. Penelitian ini menggunakan 15 pohon contoh yang diberikan perlakuan menggunakan stimulansia organik Jahe, tiap perlakuan dilakukan terhadap 3 (tiga) pohon contoh. Pembaruan luka dilakukan tiap 3 hari sekali serta penyemprotan dilakukan 3 hari sekali dengan pengambilan getah sebanyak 3 kali panen serta kegiatan pemanenan getah dilakukan setiap 2 minggu sekali. Pohon contoh yang digunakan dalam penelitian, dipilih terlebih dahulu sebelum dilakukan kegiatan penyadapan getah. Pemilihan pohon contoh tersebut, dilakukan secara acak dengan diameter 20-25 cm, belum pernah dilakukan penyadapan dan sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak jahe memengaruhi produktivitas getah secara nyata, tetapi tidak memberikan perbedaan yang signifikan pada kualitasnya. Perlakuan dengan jahe 75% menghasilkan jumlah getah tertinggi, dengan rata-rata 15,74 gram/koakan/hari. Ini membuktikan bahwa konsentrasi tersebut paling efektif untuk merangsang keluarnya getah. Sebaliknya, penggunaan jahe 100% justru menurunkan hasil sadapan, kemungkinan karena konsentrasi yang terlalu tinggi dapat merusak jaringan penghasil getah. Untuk kualitas getah, semua perlakuan tetap menghasilkan warna yang serupa, yaitu putih hingga kekuningan, dan semuanya masih masuk dalam kategori mutu B menurut standar SNI. Kadar air dan kadar kotoran getah dari masing-masing perlakuan juga menunjukkan nilai yang berbeda-beda, tetapi tidak terlalu mencolok. Kadar air berkisar antara 1,2% sampai 2,3%, dan kadar kotoran antara 33% hingga 41%, namun secara statistik tidak ada pengaruh yang signifikan. Secara umum, penggunaan ekstrak jahe terutama pada konsentrasi 75% terbukti mampu meningkatkan produksi getah pinus, meskipun kualitas getah belum mencapai standar mutu A. Hal ini menunjukkan bahwa jahe bisa menjadi bahan alami yang potensial untuk meningkatkan hasil sadapan getah pinus tanpa memengaruhi kualitas secara drastis. |