| JudulHTTP/3 VS HTTP/2: ANALISIS KOMPARATIF LATENSI DAN THROUGHPUT DALAM TRANSAKSI API RESTFUL PADA BERBAGAI TINGKAT KONKURENSI, BEBAN DATA (PAYLOAD), DAN KONDISI JARINGAN YANG TERDEGRADASI |
| Nama: VIDYA AZ ZAHRA |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Penelitian ini membandingkan kinerja RESTful API berbasis HTTP/3 (quic-go) dan HTTP/2 (pustaka standar Go dengan TLS 1.3) secara empiris di bawah berbagai variasi beban kerja dan kondisi jaringan. Desain eksperimen faktorial kuantitatif yang ketat sebesar 2 × 2 × 2 × 2 × 3 diimplementasikan dalam lingkungan Virtual Machine GCP yang terkendali. Eksperimen ini menguji dua protokol, dua metode REST, dua ukuran payload, dua tingkat konkurensi, dan tiga kondisi jaringan (Baseline, Medium, dan Poor). Penurunan kualitas jaringan diemulasi menggunakan traffic control untuk mensimulasikan latensi, pembatasan bandwidth, dan kehilangan paket (packet loss). Kinerja diukur menggunakan Latensi, Time to First Byte (TTFB), dan Throughput. Statistik non-parametrik (Uji Mann-Whitney, Uji H Kruskal-Wallis, dan Effect Size) digunakan untuk pengujian hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunggulan kinerja HTTP/3 sangat bergantung pada konteks. Pada kondisi jaringan yang mengalami degradasi parah, HTTP/3 menunjukkan keunggulan yang signifikan secara statistik maupun praktis, terutama untuk operasi GET dengan konkurensi tinggi, mencapai latensi hingga 31,2% lebih rendah dan throughput 45,4% lebih tinggi dibandingkan HTTP/2. Di hampir semua skenario, HTTP/3 secara konsisten memberikan kinerja TTFB yang lebih unggul dengan rata-rata pengurangan sebesar 35,5%, yang mencerminkan efisiensi dalam pembentukan koneksi dan pemulihan kehilangan data pada tingkat stream. Sebaliknya, pada kondisi jaringan ideal dengan konkurensi tinggi dan ukuran payload sedang, HTTP/2 mengungguli HTTP/3 dengan mencatat latensi hingga 29,3% lebih rendah dan throughput 22,7% lebih tinggi. Hal ini menunjukkan adanya trade-off pemrosesan pada tingkat implementasi dalam sistem berbasis QUIC. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemilihan protokol harus dipandu oleh karakteristik beban kerja dan kondisi jaringan, alih-alih mengasumsikan keunggulan mutlak salah satu protokol. Hasil ini bergantung pada implementasi dan diturunkan dari beban kerja sintetis yang terkendali, sehingga membatasi generalisasi langsung ke lingkungan produksi. |