Perpustakaan
DESKRIPSI DATA LENGKAP
JudulHUBUNGAN SEBARAN SUHU TINGGI PERMUKAAN LAHAN DAN KELEMBABAN DENGAN KEJADIAN KEBAKARAN DI KECAMATAN MANTIKULORE
Nama: MUH YASIN AL ANSAR
Tahun: 2023
Abstrak
Kecamatan Mantikulore dalam RTRW Kota Palu Tahun 2021-2041 memiliki penggunaan lahan yang terdiri dari hutan rimba, pasir, perkebunan, permukiman, sawah, semak belukar, sungai, tanah kosong, ladang. Wilayah Mantikulore terdiri atas 50 persen daratan, 28 persen perbukitan dan 22 persen pegunungan, dengan jumlah penduduk 74.748 jiwa dan berstatus sebagai Kecamatan terbesar sekaligus memiliki kejadian kebakaran dalam kategori tinggi di Kota Palu bersama dengan Kecamatan Palu Selatan. Jenis penelitian yang menerapkan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, dokumentasi dan studi pustaka, serta menggunakan metode analisis deskriptif, LST, NDMI dan overlay. Berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan analisis suhu permukaan lahan (LST) dan kelambaban (NDMI), di dapatkan bahwa umumnya kejadian kebakaran di Kecamatan Mantukulore terjadi pada penggunaan lahan seperti permukiman dan tempat kegiatan, tegalan/ladang dan semak belukar/alang alang yang berada pada interval kontur 0 – 300 dengan klasifikasi suhu permukaan kelas cukup tinggi – sangat tinggi dan kelembaban kelas sedang – sangat rendah. Penyebab terjadinya kebakaran di Kecamatan Mantikulore, paling tinggi dikarenakan korsleting listrik dan diikuti oleh kelalaian (puntung rokok/sisa pembakaran sampah). Adapun objek yang paling banyak terbakar dalam 3 tahun terakhir adalah lahan dan diikuti oleh bangunan (rumah, kos, kantin, warung, basecamp). Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa suhu tinggi permukaan lahan dan kelembaban memiliki hubungan dengan kejadian kebakaran yaitu suhu yang tinggi menjadi faktor pendukung membesarnya api bukan faktor utama munculnya api, kemudian suhu tinggi mampu menurunkan tingkat kelembaban sehingga mempercepat keringnya bahan bakar (kayu, rumput, dan lainnya) dan membuat kondisi air tanah berkurang sehingga semak belukar atau lahan gambut mengalami kekeringan dan api mudah menyambar vegetasi yang memiliki kandungan air rendah.

Sign In to Perpus

Don't have an account? Sign Up