| JudulKEBERLANJUTAN USAHA BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR MELALUI INTEGRASI DENGAN TERNAK AYAM KAMPUNG DI KABUPATEN BANGGAI |
| Nama: MUKHSANTHO MAURANI |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Mukhsantho Maurani (E 32224016), Keberlanjutan Usaha Budidaya Ikan Air Tawar Melalui Integrasi Dengan Ternak Ayam Kampung di Kabupaten Banggai, Dibimbing Oleh Effendy dan Sulaeman, 2025. Pendapatan merupakan indikator utama dalam mengukur keberlanjutan usaha tani maupun budidaya, oleh karena itu, penting untuk menganalisis besar pendapatan masing-masing komponen usaha, yaitu budidaya ikan air tawar dan ternak ayam kampung, baik secara pola integrasi maupun dalam pola nonintegrasi. Penelitian ini bertujuan: 1) Menganalisis besar pendapatan usaha ikan air tawar pola non-integrasi; 2) Menganalisis besar pendapatan usaha ikan air tawar pola integrasi; 3) Menganalisis total pendapatan usaha ikan air tawar dan ternak ayam kampung pola integrasi; dan 4) Menganalisis perbedaan pendapatan usaha ikan air tawar antara pola integrasi dengan pola non-integrasi di Kabupaten Banggai. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Banggai, lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) yaitu Kecamatan Toili, Toili Barat, Moilong dan Toili Jaya. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: analisis deskriptif, analisis pendapatan, dan statistik uji t (Independent Samples T-Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Usaha ikan air tawar Lele pola non-integrasi menghasilkan pendapatan bersih sebesar Rp 656.689,88 per 10 m² per tahun. Pendapatan usaha Lele pola integrasi mencapai Rp 2.895.789,06 per 10 m² per tahun, atau hampir 4,4 kali lebih tinggi dibandingkan pola nonintegrasi. Integrasi ikan Lele dengan ayam kampung memberikan pendapatan total sebesar Rp 33.774.666,67 per 76,31 m² per tahun, yang berasal dari kombinasi pendapatan ikan dan penjualan ayam kampung sebesar Rp 965.625,00. Terdapat perbedaan pendapatan yang signifikan antara pola integrasi dan pola non-integrasi, dengan nilai Sig. (2-tailed) = 0,002, lebih kecil dari ? = 0,05. Rata-rata pendapatan integrasi (Rp 6.310.165,92 per 10 m²) jauh lebih tinggi dibandingkan non-integrasi (Rp 3.074.986,48 per 10 m²). Rentang interval kepercayaan 95% tidak melintasi nilai nol, sehingga perbedaan tersebut secara statistik sahih. Hasil ini membuktikan bahwa integrasi ikan–ayam kampung memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar dan efisien dibandingkan sistem non-integrasi. Kata Kunci: Ikan lele, Ayam kampung, Integrasi, Non-Integrasi |