| JudulIDENTIFIKASI DAN PERAN ARTHROPODA PADA EKOSISTEM TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum Frutescens L.) DI DESA LORU KECAMATAN BIROMARU KABUPATEN SIGI |
| Nama: RIKI FIRMANSYAH |
| Tahun: 2025 |
| Abstrak Riki Firmansyah, Identifikasi dan peran arthropoda pada ekosistem tanaman cabai rawit Di Desa Loru, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi (Dibimbing Oleh Prof. Dr. Ir. H. Alam Anshary, M.Si dan Ir.Abd. Wahid, M.Si). Cabai rawit (Capsicum frutenscens L.) merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor pertanian hortikultura Di Indonesia dan termasuk sayuran dengan potensi budidaya yang tinggi, tingginya kebutuhan masyarakat akan cabai rawit untuk komsumsi sehari-hari menyebabkan permintaan cabai rawit di pasaran terus meningkat. Namun demikian proses budidayanya rentan terhadap gangguan serangan OPT yang dapat merusak tanaman cabai oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengendalian OPT untuk menekan pertumbuhan dan perkembangan hama di lapangan, langkah pengendalian yang tepat seperti pemilihan varietas unggul, pengendalian fisik, mekanik, serta penggunaan musuh alami, Arthropoda yang masuk kedalam kelas insecta merupakan yang paling sering menyerang tanaman cabai rawit meliputi lalat buah (Bactrocera dorsalis), kutu daun (Aphis sp.), thrips (Thrips sp.), kutu kebul (Bemisia tabaci), dan belalang (Dissosteira carolina). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragamaan arthropoda pada ekosistem tanaman cabai rawit, dan mengenal ordo-ordo serangga Di Desa Loru, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Metode pengambilan data dilakukan dengan tiga teknik yaitu, yellow trap, pitfall trap, dan sweep net. Hasil penelitian menunjukan Jumlah individu arthropoda pada ekosistem pertanaman cabai organik adalah sebanyak 4,266 individu terdiri dari 4 kelas (Insecta, Arachnida, Chilopoda, Collembola), 13 ordo, dan 39 famili. Struktur komposisi peran arthropoda pada ekosistem pertanaman cabai organik mengalami perbedaan pada setiap fase pertumbuhan dimana pada fase vegetatif kelompok dekomposer 30%, predator 21%, dan polinator 3%. Sedangkan pada fase generatif dekomposer menurun 23% predator meningkat 26?n polinator meningkat 6%. Hasil analisis menunjukan bahwa indeks keanekaragaman (H’) arthropoda pada fase vegetatif (H’=2,735) sedikit lebih tinggi dibanding fase generatif (H’=2,551). Kemerataan (E) pada kedua fase tergolong sedang, sedangkan Dominansi (D) rendah. |