Perpustakaan
DESKRIPSI DATA LENGKAP
JudulPREDIKSI EROSI PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) OLAYA DI KABUPATEN PARIGI MOUTONG
Nama: DWIKI RICARD SAAMAD
Tahun: 2021
Abstrak
RINGKASAN Dwiki Ricard Saamad (E28117261). Prediksi Erosi Pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Olaya (dibimbing oleh Salapu Pagiu dan Rachmat Zainuddin, 2021). Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan salah satu ekosistem yang terbentuk dari beragam unsur sumber daya alam saling terintegrasi satu sama lain yang secara alamiah memiliki potensi-potensi yang dapat di kelola serta dimanfaatkan. Salah satu masalah utama dalam upaya pengelolaan DAS adalah terjadinya erosi. Erosi dapat di definisikan sebagai proses hilangnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ketempat lainnya yang di pengaruhi oleh media alami. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi seberapa besar laju Erosi yang akan terjadi pada berbagai lahan di DAS (Daerah Aliran Sungai) Olaya Kabupaten Parigi Moutong. Penelitian ini di laksanakan pada bulan September-November 2020 di wilayah DAS Olaya Kabupaten Parigi Moutong. Metode yang digunakan yakni metode deskriptif eksploratif dan penentuan titik pengambilan sampel dilakukan dengan stratifikasi berdasarkan unit-unit lahan penelitian. Hasil menunjukkan bahwa nilai faktor erosivitas (R) yakni 680.36. Nilai faktor erodibilitas (K) tertinggi pada unit lahan 1 pertanian lahan kering dengan tipe lereng 0-3% yakni 0,99 kriteria sangat tinggi sedangkan yang terendah pada unit lahan 5 pertanian lahan kering campur 25-40% yakni 0,22 kriteria sedang. Nilai faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) tertinggi pada unit lahan 7 hutan lahan kering sekunder >40% yakni 5,43 sedangkan yang terendah pada unit lahan 1 dan 4 pertanian lahan kering 0-3?n 25-40?rbukit yakni 0,04 Nilai faktor pengelolaan tanaman dan tindakan konservasi (CP) tertinggi pada unit lahan 6 dan unit lahan 7 tipe hutan lahan kering sekunder yakni 0,005 sedangkan yang terendah pada unit lahan 1, 2, 3, 4, 5 yakni 0,2. Erosi aktual tertinggi terjadi pada unit lahan 3 vegetasi lahan kering campur semak tipe lereng 1-3% yakni 550,21 ton/ha/thn, sedangkan yang terendah terjadi pada unit lahan 4 pertanian lahan kering yakni 0,08 ton/ha/thn. Nilai erosi yang ditoleransi (TSL) tertinggi pada unit lahan 4 kelerengan 25-40?rbukit dengan tipe pertanian lahan kering dengan nilai 44,88 ton/ha/thn, sedangkan yang terendah terjadi pada unit lahan 5 pertanian lahan kering campur semak yakni 25-40?ngan nilai 39,38 ton/ha/thn. Berdasarkan nilai erosi potensial dan TSL maka nilai indeks bahaya erosi (IBE) dengan kriteria sangat tinggi pada unit lahan 3 lahan kering campur semak yakni 16,21 dan unit lahan 7 hutan lahan kering sekunder yakni 29,95, sedangkan nilai IBE terendah pada unit lahan 1 yakni 0,64 dan unit lahan 4 yakni 0,21 dengan kriteria rendah. Upaya tindakan konservasi yang dapat dilakukan pada wilayah yang memiliki nilai erosi yang tinggi yakni dengan cara melakukan budidaya tanaman jagung dan kacang tanah serta menggunakan terasering dan melakukan reboisasi atau penanaman tanaman tahunan.

Sign In to Perpus

Don't have an account? Sign Up