| JudulSTRATEGI PENGUATAN PENGELOLAAN HUTAN ADAT NGATA TORO DI SEKITAR TAMAN NASIONAL LORE LINDU KECAMATAN KULAWI KABUPATEN SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH |
| Nama: CESAR A.M |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Cesar A.M - E20323001. Strategi Penguatan Pengelolaan Hutan Adat Ngata Toro di Sekitar Taman Nasional Lore Lindu Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Promotor: Imran Rachman; Ko-Promotor: Golar dan Sudirman Dg. Massiri. Penetapan Hutan Adat diharapkan mampu menjamin kelestarian ekosistem dan kesejahteraan masyarakat, namun pelaksanaannya kerap dihadapkan pada ancaman deforestasi dan lemahnya pengelola Hutan Adat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi kesesuaian zona ruang adat dengan kondisi tutupan lahan; (2) mendeskripsikan kinerja fungsi kelembagaan adat berdasarkan prinsip Ostrom; dan (3) merumuskan strategi penguatan pengelolaan Hutan Adat Ngata Toro. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods). Evaluasi keruangan dianalisis menggunakan metode Object-Based Image Analysis (OBIA) melalui citra satelit Sentinel-2A. Kinerja kelembagaan dievaluasi menggunakan delapan prinsip Common-Pool Resources (CPR) Ostrom (1990). Perumusan strategi prioritas dianalisis menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan melibatkan pakar dan pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara spasial, zonasi kearifan lokal (Wanangkiki, Wana, Pangale, Oma) masih relevan, namun terdapat ketidaksesuaian lahan fungsi konservasi sebesar 13,9% (237,1 ha) akibat pembukaan lahan baru dan praktik jual beli lahan. Kondisi ini tervalidasi oleh temuan deforestasi seluas 128,2 hektare pada periode 2021-2025. Pada dimensi institusional, kinerja kelembagaan adat To Kulawi Moma berada pada kategori "sedang" (skor 35). Meskipun memiliki kearifan lokal yang baik dan inklusif (seperti ombo, Libu Bohe, Tondo Ngata, Givu, dan peran perempuan Tina Ngata), fungsi kontrol lembaga adat melemah akibat tekanan ekonomi dan persepsi keliru masyarakat pasca-penetapan HA dan pelanggaran oleh pihak luar. Analisis AHP menempatkan Keberlanjutan Ekologi sebagai prioritas utama (bobot 58,7%), melampaui aspek Sosial-Kelembagaan (30,9%) dan Ekonomi (10,4%). Strategi prioritas utama mencakup: percepatan tata batas definitif partisipatif, konsolidasi penegakan sanksi melalui Libu Bohe (C3), dan tata kelola kolaboratif adaptif bersama mitra pendamping (C1). Strategi ini wajib didukung oleh moratorium dan restorasi lahan kritis, dan integrasi penegakan hukum melalui MoU dengan aparat negara. Penelitian ini menghasilkan tiga kebaruan (novelty): (1) Model Tata Kelola Ekosentris-Institusional yang membuktikan bahwa intervensi penyelamatan ekologi dan legalisasi institusi merupakan syarat sebelum implementasi program ekonomi; (2) Hibridisasi Teori Ostrom, yang memutakhirkan prinsip batas komunal dengan teknologi spasial; serta (3) Formulasi instrumen verifikasi multidimensi yang dapat dijadikan tools evaluasi pra dan pasca-penetapan Hutan Adat. Kata Kunci: Hutan Adat, Kesesuaian Lahan, Ngata Toro, OBIA, Ostrom, AHP, SWOT. |