| JudulEXPLORASI, KARAKTERISTIK DASAR DAN ETNOBOTANI JENIS-JENIS BAMBU DI KABUPATEN TOLI-TOLI SULAWESI TENGAH |
| Nama: MUTHMAINNAH |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Muthmainnah, E20320008. Eksplorasi, Karakteritik Dasar dan Etnobotani Jenis-Jenis Bambu di Kabuapaten Toli-Toli Sulawesi Tengah, tim promotor Ramadanil Pitopang dan Imran Rachman. Indonesia memiliki kekayaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang melimpah, salah satunya adalah bambu. Bambu berperan penting secara ekologis maupun ekonomis karena mampu menjaga keseimbangan lingkungan serta dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, perabotan, pangan, obat-obatan, dan bahan baku biomaterial. Meskipun demikian, informasi mengenai keanekaragaman, karakteristik dasar, dan pemanfaatan bambu di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Toli-Toli, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menyedikan informasi terkini mengenai jenis-jenis bambu di Kecamatan Lampasio, Kabupaten Toli-Toli; (2) mengkarakterisasi anatomi, fisik, dan mekanik dari jenis-jenis bambu di kecamatan Lampasio Kabupaten Toli-Toli ; serta (3) menganalisis pemanfaatan bambu oleh masyarakat di kecamatan Lampasio Kabupaten Toli-Toli. Desain penelitian ini mengombinasikan penelitian deskriptif melalui metode survei, eksplorasi lapangan, dan eksperimen laboratorium sesuai dengan tujuan penelitian. Studi eksplorasi dilakukan dengan metode jelajah untuk menemukan populasi bambu di berbagai titik lokasi penelitian. Sampel bambu yang diperoleh dibuat menjadi spesimen herbarium melalui tahapan pengepresan, pengeringan, identifikasi, dan mounting, kemudian dianalisis deskripsi morfologinya menggunakan terminologi Stearn dan Mabberley. Karakteristik dasar bambu dianalisis melalui pengujian anatomi menggunakan metode maserasi dan preparat sayatan. Parameter yang diamati meliputi ikatan vaskuler, dimensi serat, nilai turunan dimensi serat, serta kelas mutu serat. Selain itu, sifat fisik bambu diuji melalui pengukuran kadar air kering udara dan kerapatan, sedangkan sifat mekanik diuji melalui penentuan Modulus of Elasticity (MOE) dan Modulus of Rupture (MOR). Data sifat fisik dan mekanik dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu posisi dan jenis bambu, dengan tiga kali ulangan. Perbedaan antarperlakuan diuji menggunakan uji BNT. Studi etnobotani dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan bambu oleh masyarakat. Penentuan lokasi sampling dilakukan secara purposive sampling pada tujuh desa di Kecamatan Lampasio, yaitu Tinading, Lampasio, Ogomatanag, Janja, Maibua, Oyom, dan Mulyasari. Penentuan responden menggunakan teknik snowball sampling dengan informan awal berupa tokoh masyarakat, kepala desa/dusun, dan masyarakat setempat yang memiliki pengetahuan serta memanfaatkan bambu. Data etnobotani dianalisis secara kuantitatif melalui perhitungan Index of Cultural Significance (ICS), disajikan dalam bentuk tabel, serta didukung dengan deskripsi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Lampasio ditemukan sembilan jenis bambu, yaitu bambu kuning (Bambusa vulgaris var. striata (Lodd. ex Lindl.)), bambu ampel (Bambusa vulgaris var. vulgaris Schard), bambu lemang (Schizostachyum brachycladum Kurz), bambu batu (Dendrocalamus strictus (Roxb.) Nees), bambu gombong (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja), bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea Widjaja), bambu cui (Schizostachyum lima (Blanco) Merr), bambu hias (Bambusa glaucophylla Widjaja), dan bambu gading (Bambusa multiplex (Lour)). Berdasarkan hasil pengamatan anatomi, ikatan pembuluh pada bambu kuning, ampel, lemang, batu, cui, dan gombong tergolong dalam tipe ikatan pembuluh III, sedangkan bambu hitam dan bambu hias tergolong dalam tipe ikatan pembuluh IV. Sembilan jenis bambu yang diuji diklasifikasikan ke dalam kelas mutu III sebagai bahan baku pulp dan kertas, yang menunjukkan bahwa serat bambu tersebut memiliki kualitas yang relatif kurang sesuai untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp dan kertas. Hasil analisis sidik ragam pada taraf kepercayaan ? = 0,05 menunjukkan bahwa posisi batang bambu (pangkal, tengah, dan ujung) serta jenis bambu berpengaruh nyata terhadap kadar air kering udara, kerapatan, modulus Elastisitas (MOE) dan Modulus patah (MOR). Berdasarkan analisis etnobotani, jenis bambu dengan nilai Index of Cultural Significance (ICS) tertinggi adalah Schizostachyum brachycladum (ICS = 516), yang dimanfaatkan secara luas sebagai bahan pangan, pagar, kayu bakar, wadah nasi lemang, tali, dan bahan anyaman. Sebaliknya, Bambusa glaucophylla Widjaja dan Bambusa multiplex (Lour.) memiliki nilai ICS terendah (ICS = 12), yang menunjukkan bahwa kedua jenis tersebut memiliki tingkat pemanfaatan yang terbatas oleh masyarakat setempat. Kata kunci : Lampasio, bambu, anatomi, sifat fisik, sifat mekanika, Etnobotani |