Perpustakaan
DESKRIPSI DATA LENGKAP
JudulKARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN KESUBURAN TANAH DI BAWAH TEGAKAN ALAM EBONI (Diospyros Celebica Bakh.) DI SULAWESI TENGAH
Nama: ASGAR TAIYEB
Tahun: 2026
Abstrak
RINGKASAN Asgar Taiyeb (E20320005), Karakteristik Fisik, Kimia, dan Kesuburan Tanah di bawah Tegakan Eboni (Diospyros celebica Bakh.), tim promotor Adam Malik dan Imran Rachman. Eboni (Diospyros celebica Bakh.) merupakan jenis kayu mewah endemik Sulawesi yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun sebaran alaminya terbatas. Tekanan eksploitasi yang terus berlangsung serta rendahnya keberhasilan upaya penanaman kembali menjadikan eboni rawan punah, sehingga memerlukan kajian faktor lingkungan tempat tumbuhnya, khususnya karakteristik fisik, kimia, dan kesuburan tanah. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sifat fisik, kimia, dan kesuburan tanah pada dua habitat alami eboni di Sulawesi Tengah, yaitu Cagar Alam (CA) Gunung Sojol dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sintuwu Maroso. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui karakteristik fisik tanah pada kedua lokasi tegakan di habitat alami eboni; (2) mengetahui karakteristik kimia tanah pada kedua lokasi tegakan di habitat alami eboni; dan (3) menentukan tingkat kesuburan tanah pada kedua lokasi tegakan di habitat alami eboni. Penelitian dilakukan di CA Gunung Sojol dan KPH Sintuwu Maroso pada April 2022 sampai Agustus 2023 menggunakan metode deskriptif melalui survei lapangan dan analisis sampel tanah di laboratorium. Pengambilan sampel tanah utuh dan tidak utuh diikuti pembuatan masing masing profil tanah diawali analisis vegetasi. Analisis data tanah melalui beberapa tahap, yaitu analisis fisik, kimia dan evaluasi kesuburan tanah yang berpedoman pada Balai Penelitian Tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik tanah pada kedua habitat alami eboni bertekstur sedang, memiliki bulk density yang tinggi, porositas baik, serta kedalaman akar sekitar 121-127 cm. Namun, kedua habitat berbeda dalam hal kadar air tanah dan permeabilitas, di mana kadar air tanah di KPH Sintuwu Maroso sekitar 28?ngan permeabilitas lebih cepat pada kedalaman 0–30 cm, sedangkan di CA Gunung Sojol kadar air lebih tinggi dengan permeabilitas lebih lambat. Reaksi tanah (pH) di CA Gunung Sojol bersifat masam dengan kandungan C-organik, P-total, K-total, dan Al-dd yang lebih tinggi, sedangkan tanah di KPH Sintuwu Maroso bersifat agak masam dengan kategori sedang untuk parameter kimia tersebut. Tingkat kesuburan tanah di kedua lokasi termasuk sedang, meskipun beberapa karakteristik kimianya berbeda. CA Gunung Sojol memiliki kandungan bahan organik dan KTK tinggi, namun dibatasi oleh pH dan kejenuhan basa yang rendah. Sebaliknya, kandungan NPK dan C-organik lebih rendah dibandingkan CA Gunung Sojol. Tingkat pertumbuhan dan potensi tegakan eboni tidak hanya ditentukan oleh sifat fisik, kimia, dan tingkat kesuburan tanah. Hal ini ditunjukkan oleh nilai INP eboni dominan pada semua tingkat pertumbuhan di KPH Sintuwu Maroso, sedangkan di CA Gunung Sojol eboni hanya dominan pada tingkat tiang. Volume per hektar (V/ha) eboni yang lebih tinggi di KPH Sintuwu Maroso, mengindikasikan potensi tegakan eboni lebih besar dibandingkan CA Gunung Sojol. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar dalam penyusunan strategi budidaya dan konservasi, baik melalui metode in-situ maupun ex-situ. Kata kunci: Gunung Sojol, Sintuwu Maroso, eboni, sifat tanah, kesuburan tanah

Sign In to Perpus

Don't have an account? Sign Up

#