| JudulPenerapan Budaya Komunikasi Nilai Sipakatau dan Sipakalebbi Etnik Bugis-Tolotang di Kelurahan Amparita, Sidenreng Rappang |
| Nama: MUSDALIPA |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Penelitian ini menganalisis penerapan nilai sipakatau dan sipakalebbi dalam kehidupan sehari-hari komunitas Bugis-Tolotang di Kelurahan Amparita, Kabupaten Sidenreng Rappang, serta bagaimana penerapan nilai-nilai tersebut membentuk identitas sosial dan menciptakan harmoni dalam masyarakat multireligius. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Analisis data menggunakan Teori Identitas Sosial yang mencakup kategorisasi sosial, identifikasi sosial, dan perbandingan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sipakatau dan sipakalebbi masih hidup dan dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan komunitas Bugis-Tolotang. Nilai sipakatau diwujudkan melalui sikap saling menghormati martabat kemanusiaan tanpa memandang perbedaan agama, tampak dalam penggunaan bahasa sopan, sikap menghargai, dan partisipasi aktif dalam kegiatan lintas agama. Nilai sipakalebbi tercermin dalam perilaku memuliakan sesama melalui penghormatan terhadap orang yang lebih tua dan tokoh adat, gerak tubuh seperti ma’tabe, pengaturan tempat duduk dalam rumah tradisional Bugis-Tolotang. Dalam pembentukan identitas sosial, nilai-nilai ini berperan dalam tiga proses. Pertama, kategorisasi sosial sebagai “Bugis-Tolotang” yang tidak eksklusif karena berbagi nilai dengan Bugis-Muslim. Kedua, identifikasi sosial melalui internalisasi praktik budaya yang tercermin dalam kebanggaan terhadap tradisi leluhur. Ketiga, perbandingan sosial yang membangun relasi harmonis berdasarkan penghormatan dan kesetaraan martabat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai sipakatau dan sipakalebbi bukan sekadar pedoman moral tetapi berfungsi sebagai fondasi budaya yang menjaga keseimbangan sosial dan keharmonisan dalam masyarakat multireligius di Amparita. Meskipun menghadapi berbagai hambatan, nilai-nilai ini tetap bertahan melalui upaya pelestarian yang melibatkan keluarga, tokoh adat, dan kesadaran generasi muda. |