| JudulMOINYA ISA MOEINYA WALI MO NILAI KULTURAL SAGU SEBAGAI FONDASI KEDAULATAN PANGAN ETNIS SENTANI KABUPATEN JAYAPURA |
| Nama: DWI NUGROHO |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Dalam masyarakat Papua, sagu memiliki makna simbolis yang signifikan karena dianggap sebagai sumber makanan dan memiliki nilai kultural yang mendalam. Penelitian ini penting untuk diteliti dari sudut pandang kebudayaan dan kearifan lokal Etnis Sentani dalam upaya membangun identitas bangsa yang berkarakter dan memiliki nilai-nilai budaya kewarganegaraan. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan mengenai konstruksi makna kultural sagu sebagai aspek simbolik, spiritual, sosial, ekonomi, hingga aspek ekologi dalam sistem pengetahuan lokal dan praktik sosial demi mempertahankan sistem pangan berkelanjutan berbasis sagu di tanah Papua. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang dapat menghasilkan data deskriptif secara lisan maupun bentuk tertulis mendeskripsikan fenomena masyarakat pada setiap individu, maupun kelompok dengan maksud untuk memperoleh gambaran suatu keadaan yang objektif. Untuk mendapatkan data lapangan dari penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan studi kepustakaan, wawancara, dokumentasi, dan sumber tertulis untuk melengkapi data peneliti dan teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sagu memiliki nilai penting bagi masyarakat Papua, bukan hanya sebagai makanan pokok, tetapi juga secara filosofis, sosial, dan budaya. Sagu memiliki nilai filosofis bagi masyarakat Papua, di mana karakternya digambarkan seperti pohon sagu yang luarnya berduri namun dalamnya bermanfaat. Sagu juga sebagai identitas kultural bagi masyarakat Sentani, dengan istilah "Fi ra wali" yang berarti saguku kehidupanku, tercermin dalam setiap aspek kehidupan mereka. Masyarakat Sentani juga memiliki pengetahuan lokal terkait pengelolaan sumber daya alam yang lestari, dengan sagu dianggap sebagai "saudara leluhur" yang harus dijaga dan dihormati. Dusun sagu dan lahan sagu menjadi ruang sosial bagi masyarakat Sentani. Dusun sagu dikelola oleh marga/klen dan diatur oleh adat istiadat untuk memenuhi kebutuhan pangan. Masyarakat Sentani menunjukkan kemandirian pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti sagu, ubi, pisang, dan talas. Praktik kearifan lokal dalam mengelola sagu di Sentani membangun sistem pangan berkelanjutan yang harmonis dengan alam, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga identitas budaya. Masyarakat Sentani mandiri secara pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti sagu, ubi, pisang, dan talas, tanpa bergantung pada beras. Ini mencerminkan prinsip kedaulatan pangan sesuai konteks sosial dan budaya mereka. Kata kunci: Sagu, Nilai kultural, Kedaulatan Pangan, dan Orang Papua |