| JudulBAHASA SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA MAHASISWA MIGRAN DI KOTA PALU (STUDI KASUS MAHASISWA BATAK, JAWA, DAN TORAJA DI KOTA PALU) |
| Nama: AMROZI D LANASE |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Amrozi D Lanase Stambuk B 301 20 041, Judul “Bahasa Sebagai Identitas Budaya Mahasiswa Migran Di Kota Palu (Studi Kasus Mahasiswa Etnis Batak, Jawa dan Toraja di Kota Palu).” Dibimbing oleh Rismawati Sebagai Pembimbing Utama dan Resmiwati Sebagai Pembimbing pendamping. Mahasiswa dari etnis batak, toraja, dan jawa merupakan contoh kelompok yang sering teridentifikasi dengan kuat melalui bahasa mereka. Etnis Batak misalnya, dikenal memiliki berbagai sub-bahasa seperti Toba, Karo, atau Mandailing, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi juga simbol kebanggan budaya. Demikian Pula Etnis Toraja, memiliki bahasa Toraja yang erat kaitannya dengan tradisi adat dan upacara keagamaan. Sementara Etnis Jawa dikenal dengan Bahasa Jawa yang memiliki tingkatan penggunaan tertentu sesuai dengan norma sosial. Ketiga kelompok ini memiliki hubungan yang erat antara bahasa dan identitas budaya mereka, yang membuat mereka menonjol di lingkungan multikultural seperti Kota Palu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran bahasa sebagai identitas budaya Mahasiswa Migran di Kota Palu dan mengidentifikasi bagaimana perubahan bahasa memengaruhi adaptasi yang dilakukan Mahasiswa migran di Kota Palu. Penelitian ini merupakan Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Fenomenologi. Penentuan informan dilakukan dengan cara Purposive. Dalam pengumpulan data menggunakan Studi Kepustakaan dan Penelitian lapangan. Dan dalam proses analisis data menggunakan Reduksi data, Triangulasi, penyajian data, dan perumusan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan Teori Identitas budaya Irwan Abdullah sebagai pisau analisis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: Pertama, Bahasa merupakan cerminan identitas etnis yang unik dan beragam. Setiap etnis memiliki dialek, kosakata, dan struktur kalimat yang khas yang dimana mencerminkan sejarah, budaya, dan lingkungan hidup mereka. Perbedaan-perbedaan linguistik ini menjadi penanda kuat akan keberadaan etnis, sekaligus menjadi pembeda antara satu etnis dengan etnis lainnya. Melalui bahasa, identitas etnis termanifestasi dalam cara berkomunikasi, berinteraksi, dan memandang dunia. Kedua, dalam lingkungan heterogen seperti Kota Palu, mahasiswa migran dihadapkan pada kebutuhan untuk menyesuaikan diri secara linguistik. Proses Adaptasi budaya yang terjadi pada Mahasiswa Migran di Kota Palu semuanya tidak terlepas dari Proses belajar yang mereka lakukan, Proses belajar ini lahir atas dasar mereka ingin terintegrasi langsung di lingkungan perantauan mereka. Proses belajar ini semuanya didapatkan melalui hambatan-hambatan yang mereka terima sehingga melahirkan strategi adaptasi budaya yang mereka gunakan dalam beradaptasi di lingkungan baru mereka |