| JudulPEMBERDAYAAN SUMBER D AYA PETANI SEBAGAI U PAYA PENCEGAHAN DAN PENANGANAN RAWAN PANGAN DI KABUPATEN MAMUJU TENGAH |
| Nama: ASMIRAH DM |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Asmirah DM, Pemberdayaan Sumber Daya Petani Sebagai Upaya Pencegahan Dan Penanganan Rawan Pangan Di kabupaten Mamuju Tengah (dibimbing oleh Syahruddin Hattab, M. Nur Alamsyah, Iktiar Hatta Kajian ini mengkaji tentang pemberdayaan petani sebagai upaya pencegahan dan penanganan rawan pangan. Kajian sebelumnya yang disampaikan oleh Khan yang menekankan 6 (enam) dimensi untuk efektifnya sebuah pemberdayaan. Namun kajian ini menunjukkan bahwa perlu juga pelibatan berbagai aktor yang bersifat lintas sektor dalam keranga kolaboratif karena sejauh ini dilapangan memperlihatkan adanya potensi rawan pangan karena tidak adanya sinergitas dalam proses pemberdayaan dan tidak berkelanjutan. Fenomena tersebut memperlihatkan adanya paradoks antara potensi pertanian yang melimpah dengan kerentanan sumber daya manusia (SDM) petani dalam upaya pencegahan dan penanganan kerawanan pengan dengan menggunakan kerangka teori Khan (1997) yang menekankan enam dimensi pemberdayaandesire, trust, confidence, credibility, accountability, dan communication. Analisis ini diperkuat dengan kerangka Pentahelix (Carayannis & Campbell, 2009). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta analisis dokumen kebijakan pertanian. Data dianalisis dengan teknik reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan SDM petani di Mamuju Tengah belum terlaksana secara optimal. Empat dimensi pemberdayaan desire, trust, confidence, dan accountability sudah berjalan tetapi masih menghadapi keterbatasan, sementara dimensi credibility belum terlaksana secara baik dan dimensi communication relatif lebih kuat. Faktor utama yang menghambat efektivitas pemberdayaan adalah lemahnya keberlanjutan program, keterbatasan anggaran, rendahnya minat petani pada pangan pokok dibanding komoditas sawit, serta inkonsistensi kebijakan. Di sisi lain, kolaborasi lintas sektor berbasis Pentahelix masih bersifat parsial dan belum terintegrasi secara sistemik. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa ketahanan pangan di Mamuju Tengah tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan produksi, tetapi memerlukan strategi pemberdayaan SDM petani yang komprehensif dengan dukungan kolaborasi multipihak. Kata kunci: Pemberdayaan , Petani, Kerawanan Pangan, Ketahanan Pangan. |