| JudulINTERAKSI SOSIAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN INKLUSIF DI SMP NEGERI 1 PALU |
| Nama: ANJAR KUSUMA DEWI |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Pendidikan inklusif bertujuan untuk menjamin kesempatan pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Meskipun kerangka kebijakan telah tersedia dengan cukup kuat, implementasi pendidikan inklusif pada tingkat sekolah masih menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan sumber daya dan kurangnya dukungan struktural. Dalam konteks ini, interaksi sosial memegang peranan penting dalam membentuk pengalaman belajar siswa inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola interaksi sosial antara siswa inklusif, siswa reguler, dan guru, serta mengkaji peran interaksi sosial dalam mendukung proses belajar siswa inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan pada perspektif interaksionisme simbolik. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Palu, salah satu sekolah yang melaksanakan pendidikan inklusif. Partisipan penelitian meliputi guru dan siswa inklusif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kelas, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus FGD). Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis kualitatif interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan dua pola dominan interaksi sosial yang mendukung pembelajaran inklusif, yaitu peer support dan interaksi dialogis antara guru dan siswa. Pola-pola tersebut bekerja melalui empat mekanisme yang saling berkaitan, yaitu pembentukan identitas siswa, regulasi emosi melalui dukungan sosial, mediasi kognitif melalui scaffolding dalam Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development/ZPD), serta transmisi pengetahuan melalui pembelajaran observasional. Temuan ini mengindikasikan bahwa interaksi sosial yang bermakna— khususnya peer support dan interaksi dialogis guru-siswa—dapat berperan signifikan dalam menunjang proses belajar siswa inklusif, meskipun efektivitasnya bervariasi tergantung pada karakteristik individual siswa dan konteks pembelajaran. Dalam kondisi keterbatasan dukungan struktural formal, interaksi sosial menjadi kompensasi parsial yang penting, namun tidak dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan sumber daya khusus seperti guru pendamping dan program pembelajaran individual. Penelitian ini berkontribusi pada perspektif sosiokultural dalam kajian pendidikan inklusif dengan mengidentifikasi secara spesifik mekanisme-mekanisme konkret bagaimana interaksi sosial mendukung pembelajaran siswa inklusif. Temuan ini menegaskan pentingnya menempatkan kualitas relasi sosial sebagai fondasi pembelajaran inklusif, sekaligus menggarisbawahi kebutuhan kritis akan penguatan dukungan struktural yang memadai. Kata kunci: pendidikan inklusif, interaksi sosial, interaksionisme simbolik |