| JudulANALISIS KESESUAIAN LAHAN TANAMAN NILAM DI KECAMANTAN BALAESANG |
| Nama: RAHMAT WIJAYA |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Rahmat Wijaya, 2025, Analisis Kesesuaian Lahan Tanaman Nilam di Kecamatan Blaesang, Program Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako, Pembimbing Rahmawati. Tanaman nilam (Pogostemon cablin benth) merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi yang berperan penting dalam industri minyak atsiri. Keberhasilan budidaya nilam sangat ditentukan oleh kesesuaian kondisi lahan, meliputi faktor topografi, kemiringan lereng, jenis tanah, dan iklim. Perbedaan karakteristik lahan pada setiap wilayah dapat memengaruhi pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas hasil nilam. Oleh karena itu, kajian kesesuaian lahan diperlukan sebagai dasar perencanaan pengembangan budidaya nilam yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan satuan lahan serta mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan bagi tanaman nilam di Kecamatan Balaesang. Pendekatan yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan penerapan teknik overlay dan skoring dalam pemetaan satuan lahan serta analisis kesesuaian lahan nilam. Pembentukan satuan lahan didasarkan pada empat parameter utama, yaitu penggunaan lahan, kemiringan lereng, topografi, dan jenis tanah, yang menghasilkan sebanyak empat puluh sembilan satuan lahan. Penilaian kesesuaian lahan tanaman nilam dilakukan berdasarkan delapan parameter, meliputi kemiringan lereng, topografi, curah hujan, tekstur tanah, pH tanah, kandungan C-organik, kapasitas tukar kation (KTK), dan ketersediaan hara. Hasil analisis menunjukkan adanya empat kelas kesesuaian lahan tanaman nilam, yaitu S1 (sangat sesuai) seluas 10.350,55 ha, S2 (sesuai) seluas 7.180,16 ha, S3 (cukup sesuai) seluas 9.165,66 ha, dan N (tidak sesuai) seluas 246,97 ha. Wilayah dengan kelas S1 dan S2 umumnya dipengaruhi oleh kondisi topografi datar dengan ketinggian 0–25 m, kemiringan lereng 0–8%, serta jenis tanah Podsolik ortik. Selain itu, wilayah ini memiliki curah hujan berkisar antara 1.200–2.300 mm per bulan, pH tanah 5,5–7, nilai KTK sebesar 35,69, kandungan C-organik 4,36, penggunaan lahan yang didominasi oleh permukiman, perkebunan, sawah, dan pertanian lahan kering, serta tekstur tanah lempung yang sangat mendukung pertumbuhan optimal tanaman nilam (Pogostemon cablin benth). Kelas S3 dipengaruhi oleh faktor pembatas berupa kemiringan lereng lebih dari 15%, ketinggian wilayah di atas 700 m, dan curah hujan kurang dari 1.200 mm per bulan, yang berpotensi menyebabkan tanaman nilam mudah layu pada musim kemarau. Sementara itu, kelas N memiliki karakteristik serupa dengan kelas S3, namun dibatasi oleh kondisi pH tanah yang terlalu rendah (<4>7,5), sehingga tidak direkomendasikan untuk pengembangan budidaya nilam. Oleh karena itu, penggunaan lahan pada wilayah kelas N lebih diarahkan untuk fungsi konservasi hutan atau penanaman tanaman penutup tanah permanen. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Balaesang memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan budidaya tanaman nilam secara berkelanjutan apabila dikelola dengan memperhatikan faktor pembatas yang ada. Informasi kesesuaian lahan yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menentukan arah pengembangan komoditas nilam yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan, serta mendukung peningkatan produksi minyak atsiri dan kesejahteraan petani di wilayah tersebut. Kata Kunci: Kesesuaian lahan, tanaman nilam, pemetaan, overlay, scoring |