Perpustakaan
DESKRIPSI DATA LENGKAP
JudulPenggunaan Bahasa Dalam Komunikasi Lintas Budaya Pada Masyarakat Perbatasan Sulteng-Sulsel: Kajian Sosiolinguistik
Nama: NUR EVA
Tahun: 2026
Abstrak
Komunikasi berbahasa masyarakat di wilayah perbatasan tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan norma budaya setempat. Bentuk sapaan, cara bertutur, hingga intonasi suara merepresentasikan struktur sosial masyarakat, seperti penghormatan terhadap yang lebih tua, penggunaan ragam bahasa halus dalam konteks formal, serta strategi komunikasi yang kolaboratif. Jenis penelitian ini adalah studi sosiolinguistik, yaitu penelitian yang menelaah hubungan antara penggunaan bahasa dan konteks sosial dalam masyarakat. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Informan penelitian terdiri atas 15 orang masyarakat Desa Mayoa yang dipilih secara purposive sampling, meliputi tokoh adat, tokoh masyarakat, perangkat desa, pendidik, pedagang, serta generasi muda. Variasi latar belakang usia, pendidikan, dan etnis dipertimbangkan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai praktik kebahasaan di wilayah perbatasan. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan bahasa masyarakat Desa Mayoa bersifat dinamis dan kontekstual sebagai dampak keberagaman etnis dan budaya di wilayah perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Masyarakat secara sadar memilih bahasa sesuai situasi, tujuan komunikasi, dan hubungan sosial. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lingua franca dalam ranah formal karena bersifat netral dan menjamin keterpahaman, sedangkan bahasa daerah lebih dominan dalam konteks informal untuk membangun keakraban, solidaritas, dan identitas budaya. Pola alih kode dan campur kode mencerminkan fleksibilitas linguistik masyarakat. Praktik kebahasaan ini didukung oleh faktor geografis, sosial-budaya, ekonomi, pendidikan, sikap bahasa, dan perkembangan teknologi, sehingga keberagaman bahasa tidak menjadi hambatan, melainkan memperkuat kohesi sosial masyarakat perbatasan. Adapun kendala penelitian meliputi keterbatasan waktu pengumpulan data, perbedaan dialek yang memerlukan penyesuaian pemahaman peneliti, serta situasi komunikasi tertentu yang tidak sepenuhnya dapat direkam karena pertimbangan etika dan kenyamanan informan. Selain itu, adanya variasi bahasa yang sangat dinamis menuntut peneliti untuk melakukan pengamatan berulang agar data yang diperoleh benar-benar representatif.

Sign In to Perpus

Don't have an account? Sign Up