| JudulTRADISI “MAPPASIKARAWA” DALAM PERNIKAHAN ADAT BUGIS : KAJIAN SEMIOTIK |
| Nama: LISKA |
| Tahun: 2026 |
| Abstrak Liska, 2025. Tradisi “Mappasikarawa” dalam Pernikahan Adat Bugis (Kajian Semiotik). Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Tadulako. Pembimbing (1) Juniati, Pembimbing (2) Andi Bismawati. Tradisi Mappasikarawa merupakan salah satu prosesi penting dalam pernikahan adat Bugis yang sarat dengan tanda dan makna simbolik. Prosesi ini menandai sentuhan pertama antara pengantin laki-laki dan perempuan setelah akad nikah, yang dipandu oleh seorang pappasikarawa sebagai tokoh adat yang memahami tata cara serta makna ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan pelaksanaan tradisi Mappasikarawa dalam pernikahan adat Bugis di Desa Ogoamas, Kecamatan Sojol Utara, Kabupaten Donggala, serta mengungkap makna simbol yang terkandung dalam setiap rangkaian prosesi tersebut berdasarkan kajian semiotik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode semiotik. Data diperoleh melalui observasi langsung terhadap prosesi pernikahan adat, wawancara dengan tokoh adat, keluarga pengantin, dan masyarakat Desa Ogoamas, serta dokumentasi berupa foto, video, dan arsip pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce yang mengklasifikasikan tanda ke dalam ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan dalam prosesi Mappasikarawa, seperti Pa’bukka Tange (pembukaan pintu kamar), sentuhan pada bagian tubuh tertentu (telapak tangan, lengan, dada, dan dahi), mencium tangan suami, serta prosesi lomba berdiri, mengandung makna simbolik yang berkaitan dengan doa, restu, kesehatan, kasih sayang, penghormatan, dan keseimbangan peran dalam kehidupan rumah tangga. Selain itu, benda-benda yang digunakan seperti gollagolla (permen) dan uang koin dimaknai sebagai simbol kebahagiaan, keharmonisan, dan keberkahan rezeki. Secara keseluruhan, tradisi Mappasikarawa tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai sarana komunikasi budaya yang memperkuat identitas masyarakat Bugis serta mencerminkan keterpaduan antara nilai adat dan nilai keagamaan dalam kehidupan perkawinan. Kata kunci: Mappasikarawa, pernikahan adat Bugis, semiotika peirce, simbol budaya, Desa Ogoamas |